Lebih suka menggunakan Git melalui GUI atau CLI? Kalau saya pribadi, saya menyukai keduanya.
Git CLI menawarkan fleksibilitas dan kecepatan, terutama ketika kita sudah terbiasa dengan berbagai command Git. Sementara itu, Git GUI sangat membantu ketika ingin melihat branch, commit history, diff, merge conflict, hingga mengelola banyak repository secara visual.
Untuk pekerjaan sehari-hari, saya biasanya menggunakan kombinasi keduanya. Namun, khusus untuk Git GUI, ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan saya sebelum memilih aplikasi.
Kriteria Git GUI yang Nyaman untuk Digunakan
Setidaknya ada lima kriteria utama yang saya cari dari sebuah aplikasi Git GUI.
0. Kalau Bisa, Bukan Electron 😆
Ya, ini saya jadikan kriteria nomor nol.
Saya pribadi lebih menyukai aplikasi desktop yang tidak dibangun dengan membungkus aplikasi web menggunakan Electron atau WebView.
Bukan berarti aplikasi Electron selalu buruk, tetapi aplikasi desktop yang menggunakan toolkit seperti native UI atau framework desktop biasanya berpotensi terasa lebih ringan dan lebih terintegrasi dengan sistem operasi.
1. Memiliki Tab-Based Interface
Ini salah satu fitur yang paling penting buat saya.
Konsepnya mirip seperti browser. Setiap repository dapat dibuka dalam tab yang berbeda, sehingga berpindah dari satu project ke project lainnya menjadi jauh lebih cepat dan nyaman.
Fitur seperti ini sangat berguna ketika dalam satu waktu kita harus bekerja dengan banyak repository.
2. Memiliki Fitur Workspace
Dalam project yang cukup besar, biasanya kita tidak hanya bekerja dengan satu repository. Satu produk saja bisa terdiri dari beberapa repository berbeda.
Misalnya:
📁 Project A
├── Backend API
├── Backend Service
├── Admin Dashboard
└── Frontend
Dengan fitur Workspace, repository yang saling berhubungan dapat dikelompokkan dalam satu workspace.
Hasilnya, context switching menjadi jauh lebih nyaman karena ketika berpindah project, kita tidak perlu membuka kembali repository satu per satu.
3. Mendukung Private Repository
Dukungan terhadap private repository tentu menjadi fitur wajib jika Git GUI tersebut ingin digunakan untuk pekerjaan profesional sehari-hari.
Apalagi sekarang sebagian besar project perusahaan, aplikasi komersial, maupun project pribadi disimpan dalam repository private di GitHub, GitLab, Codeberg, Bitbucket, atau Git server sendiri.
4. Gratis, atau Berbayar Secara Opsional
Saya pribadi lebih menyukai aplikasi yang dapat digunakan secara gratis, atau setidaknya memiliki model pembayaran yang sifatnya opsional.
Kalau aplikasinya memang bagus dan ada versi berbayar sebagai bentuk dukungan kepada developer, tentu tidak menjadi masalah.
Rekomendasi Git GUI: Fork dan SourceGit
Dari beberapa Git GUI yang pernah saya lihat dan gunakan, ada dua aplikasi yang menurut saya cukup menarik dan memenuhi sebagian besar kriteria di atas: Fork dan SourceGit.
1. Fork
Fork merupakan Git client desktop yang tersedia untuk Windows dan macOS.
Salah satu hal yang saya suka dari Fork adalah tampilannya yang bersih. Navigasi antar repository juga terasa nyaman, terutama karena Fork mendukung antarmuka berbasis tab.
Dari sisi fitur, Fork juga cukup lengkap untuk kebutuhan Git sehari-hari.
- Tab untuk membuka beberapa repository
- Commit history
- Branch management
- Diff viewer
- Merge conflict resolver
- Interactive rebase
- Git LFS
- Git Flow
- Stash management
- Dukungan private repository
Fork menggunakan model lisensi berbayar dengan harga sekitar US$59.99 untuk sekali pembelian, tetapi tersedia juga mekanisme free evaluation.
Kekurangan Fork
Kekurangan utama Fork menurut saya adalah aplikasi ini belum tersedia untuk Linux.
Selain itu, Fork merupakan aplikasi closed-source. Jadi bagi pengguna yang lebih menyukai software open-source, hal tersebut mungkin menjadi salah satu pertimbangan.
2. SourceGit
Website: https://sourcegit-scm.github.io/
Source code: github.com/sourcegit-scm/sourcegit
Kalau mencari alternatif Fork yang gratis, open-source, dan lintas platform, menurut saya SourceGit sangat menarik untuk dicoba.
SourceGit tersedia untuk tiga sistem operasi desktop utama:
- ✅ Windows
- ✅ Linux
- ✅ macOS
Dari sisi fitur, SourceGit juga sudah cukup lengkap untuk digunakan sebagai Git client utama.
- ✅ Gratis dan open-source
- ✅ Tab-based interface
- ✅ Workspace
- ✅ SSH dan private repository
- ✅ Git Flow
- ✅ Git LFS
- ✅ Interactive rebase
- ✅ Git Worktree
- ✅ Commit history dan graph
- ✅ Branch management
- ✅ Diff viewer
Menariknya lagi, SourceGit dibangun menggunakan C# dan Avalonia UI.
Artinya, aplikasi ini bukan aplikasi berbasis Electron. Bagi saya yang memang mencari Git GUI desktop tanpa Electron, hal ini menjadi nilai tambah tersendiri.
Secara fitur, SourceGit sekarang sudah cukup kompetitif untuk digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Fork vs SourceGit, Mana yang Lebih Baik?
Sebenarnya tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua orang. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing.
| Fitur | Fork | SourceGit |
|---|---|---|
| Windows | ✅ | ✅ |
| Linux | ❌ | ✅ |
| macOS | ✅ | ✅ |
| Tab-based Interface | ✅ | ✅ |
| Workspace | ✅ | ✅ |
| Private Repository | ✅ | ✅ |
| Git LFS | ✅ | ✅ |
| Git Flow | ✅ | ✅ |
| Interactive Rebase | ✅ | ✅ |
| Open-source | ❌ | ✅ |
| Electron | ❌ | ❌ |
| Harga | US$59.99 / free evaluation | Gratis |
Kesimpulan
Kalau menggunakan Windows atau macOS dan menginginkan Git GUI yang matang, bersih, dan nyaman digunakan sehari-hari, Fork masih menjadi salah satu pilihan favorit saya.
Tetapi kalau menginginkan aplikasi yang gratis, open-source, tersedia untuk Windows, Linux, dan macOS, mendukung tab dan workspace, serta bukan Electron, maka SourceGit merupakan alternatif yang sangat menarik.
Pada akhirnya, saya tetap menggunakan kombinasi antara Git GUI dan Git CLI.
CLI unggul untuk kecepatan, automation, scripting, dan kontrol yang lebih fleksibel. Sementara Git GUI memberikan visualisasi yang jauh lebih nyaman untuk commit history, branch, diff, merge conflict, dan ketika harus bekerja dengan banyak repository sekaligus.
Kalau kalian pengguna Git GUI, sekarang menggunakan apa? Fork, SourceGit, GitKraken, Sourcetree, atau tetap setia menggunakan terminal?

Posting Komentar