Di Windows atau macOS, tampilan antarmuka umumnya sudah ditentukan oleh sistem dan tidak bisa diganti secara total. Namun, di ekosistem Linux ceritanya berbeda. Pengguna bebas mengganti "baju" alias Desktop Environment (DE) sesuai kebutuhan dan selera.
Biar nggak bingung saat mau install distro Linux, berikut urutan beberapa Desktop Environment Linux mulai dari yang paling ringan untuk laptop lawas, sampai kelas standar dengan tampilan modern dan fitur melimpah.
1. Desktop Environment Linux Ringan dan Gesit
Saran RAM: 2 GB
Bahkan RAM 1 GB masih mungkin digunakan, tetapi 2 GB lebih aman jika ingin menjalankan
browser modern dan aplikasi sehari-hari.
Fokus utama Desktop Environment di kelas ini adalah performa dan efisiensi resource. Jadi, jangan terlalu berharap pada animasi atau efek visual yang berlebihan. Pilihan ini cocok untuk menghidupkan kembali laptop atau PC lawas.
1.1 LXDE dan LXQt
LXDE dan LXQt termasuk Desktop Environment Linux yang sangat ringan. LXQt merupakan penerus modern LXDE dengan basis teknologi Qt. Tampilannya memang relatif sederhana, tetapi penggunaan resource-nya sangat hemat dan dalam kondisi tertentu konsumsi RAM saat idle bisa berada di bawah 500 MB.
1.2 XFCE
Website resmi: xfce.org
XFCE terkenal ringan tetapi tetap mudah dikustomisasi. Desktop Environment ini menjadi pilihan populer bagi pengguna yang menginginkan sistem cepat, stabil, dan minim animasi berlebihan.
1.3 MATE
Website resmi: mate-desktop.org
MATE merupakan kelanjutan dari desain GNOME 2. Tampilannya klasik, stabil, dan tetap terasa ringan untuk penggunaan sehari-hari. Cocok untuk pengguna yang menyukai konsep desktop tradisional.
1.4 Enlightenment
Website resmi: enlightenment.org
Enlightenment cukup unik karena awalnya dikembangkan sebagai Window Manager. Desktop ini menawarkan berbagai efek dan animasi visual, tetapi tetap dikenal ringan dalam penggunaan resource.
2. Desktop Environment Linux Kelas Menengah
Saran RAM: 4 GB
Kapasitas ini sudah cukup ideal untuk penggunaan harian yang nyaman.
Desktop Environment di kelas menengah menawarkan keseimbangan antara performa, fitur, dan tampilan modern. Sistem tidak terlalu terbebani, tetapi pengalaman visual yang diberikan sudah terasa lebih modern.
2.1 Cinnamon
Website resmi: projects.linuxmint.com/cinnamon
Cinnamon dikembangkan oleh tim Linux Mint. Tata letaknya familiar bagi pengguna Windows karena menggunakan panel di bagian bawah dan menu aplikasi di sudut kiri.
Karena itu, Cinnamon menjadi salah satu pilihan Desktop Environment yang ramah untuk pengguna yang baru beralih dari Windows ke Linux.
2.2 Pantheon
Website resmi: elementary.io
Pantheon merupakan Desktop Environment bawaan elementary OS. Desainnya minimalis, elegan, dan memiliki pendekatan visual yang cukup dekat dengan macOS.
Pantheon cocok untuk pengguna yang menyukai workflow rapi dan tidak ingin terlalu banyak melakukan konfigurasi tampilan.
2.3 Budgie
Website resmi: buddiesofbudgie.org
Budgie awalnya dikembangkan sebagai Desktop Environment untuk distro Linux Solus. Desainnya sederhana, modern, dan rapi tanpa memberikan beban sistem yang terlalu besar.
3. Desktop Environment Linux Kelas Standar
Saran RAM: 8 GB atau lebih
Sebagian Desktop Environment di kelas ini tetap dapat berjalan dengan RAM 4 GB,
tetapi kapasitas 8 GB atau lebih akan memberikan pengalaman multitasking dan animasi yang lebih nyaman.
Desktop Environment kelas ini biasanya menawarkan tampilan modern, animasi lengkap, integrasi sistem yang luas, dan fitur yang melimpah. Beberapa di antaranya juga menjadi Desktop Environment default pada distro Linux populer.
3.1 GNOME
Website resmi: gnome.org
GNOME digunakan sebagai Desktop Environment utama di berbagai distro populer, termasuk Fedora Workstation dan Ubuntu.
Workflow GNOME cukup berbeda dari desktop tradisional karena banyak mengandalkan keyboard shortcut, Activities Overview, workspace, dan gesture. Pendekatannya terasa modern dan cukup dekat dengan pengalaman perangkat berbasis gesture.
GNOME menawarkan tampilan yang bersih dan modern, tetapi penggunaan resource-nya cenderung lebih tinggi dibanding Desktop Environment ringan seperti XFCE atau LXQt.
3.2 KDE Plasma
Website resmi: kde.org/plasma-desktop
KDE Plasma bisa dibilang sebagai salah satu rajanya kustomisasi di dunia Linux. Pengguna dapat mengubah panel, menu, widget, tema, efek, shortcut, hingga workflow desktop dengan sangat bebas.
Tampilannya bisa dibuat menyerupai Windows, macOS, atau bahkan konsep desktop yang benar-benar berbeda. Walaupun fiturnya sangat lengkap, KDE Plasma modern juga memiliki optimasi resource yang cukup baik.
3.3 Deepin Desktop Environment (DDE)
Website resmi: deepin.org/en/dde
Deepin Desktop Environment (DDE) terkenal karena tampilan visualnya yang modern, elegan, dan memiliki banyak efek animasi.
Konsekuensinya, kebutuhan resource grafisnya cenderung lebih tinggi. Perangkat dengan GPU dan RAM yang memadai akan memberikan pengalaman animasi yang lebih mulus.
Desktop Environment Linux Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Tidak ada satu Desktop Environment yang paling bagus untuk semua orang. Pilihannya bergantung pada spesifikasi perangkat dan gaya penggunaan.
- Laptop lawas: LXQt, XFCE, MATE, atau Enlightenment.
- Ingin ringan tetapi tetap modern: Cinnamon atau Budgie.
- Menyukai tampilan minimalis ala macOS: Pantheon.
- Menginginkan pengalaman desktop modern: GNOME.
- Suka melakukan kustomisasi ekstrem: KDE Plasma.
- Mengutamakan tampilan visual: Deepin Desktop Environment.
Kelebihan Linux adalah kalian tidak harus terjebak pada satu tampilan desktop. Kalau bosan, Desktop Environment bisa diganti tanpa harus pindah ke sistem operasi lain.
Kalau kalian sedang setup Linux, kira-kira lebih memilih gaya elegan ala Pantheon, kustomisasi ekstrem ala KDE Plasma, atau cari aman dengan XFCE? 😅

Posting Komentar